SYARIFUDDIN UDU SOLUSI UNTUK MUNA 2020-2025

SYARIFUDDIN UDU SOLUSI UNTUK MUNA 2020-2025

16 May 2011

IKAN PREDATOR TERBUAS


Add caption

Jeremy Wade mengangkat ikan Goliath Tigerfish sepanjang 1.5 meter yang berhasil ditangkapnya di Sungai Kongo, Afrika. Foto: dailymail.co.uk/ICON/bnps.co.uk
KAMIS, 5 MEI 2011 | 20:53 WIB
Ikan Goliath Tigerfish termasuk  salah satu ikan air tawar yang paling menakutkan dan terkenal sangat buas saat sedang memburu mangsanya yang berupa hewan dengan ukuran apapun, termasuk juga buaya. Angler Jeremy Wade, seorang pemancing profesional asal Inggris merupakan satu dari sedikit orang yang berhasil menangkap ikan tersebut. Ia berhasil mengalahkan tigerfish berukuran panjang 5 kaki atau sekitar 1,5 meter berbobot 45Kg setelah berupaya menangkapnya selama 8 hari. Foto: dailymail.co.uk/ICON/bnps.co.uk

Koruptor, Hukum Jera Saja



Korupsi sudah sangat lama terjadi. Hampir di semua negara dan keciatan masyarakat. Susah mengatasinya. Sangkin sulitnya, banyak pendapat yang mengatakan  untuk mengatasi korupsi itu perlu dilakukan hukuman jera, sehingga orang lain tidak mau lagi korupsi. Terlebih yang sudah pernah korupsi tidak mau lagi melakukan kejahatan itu

Tapi juga mengusulkan agar pemerintah melakukan pencegahan melalui beberapa peraturan  mengenai jalannya uang negara/rakyat itu. Banyak negara berhasil, Indonesia termasuk lambat.

Bahkan, pernah seorang Guru Besar Fakultas Hukum USU mengusulkan kembali agar hukuman jera itu selain hukuman badan berat,dilucuti semua harta  kekayaannya. Menarik semua hartanya ada dasar hukumnya di dunia ini.. Tapi sayangnya pemerintah tidak menggunakannya.

Miskinkan saja koruptor itu. Biarkan saja koruptor itu mengemis di lampu pinggiran jalan. Kenyataan koruptor tetap kaya saat menjalani hukuman di penjara,maupun setelah mereka keluar dari penjara. Ini termasuk buramnya penegakan hukum di Indonesia.

Menangani koruptor memang hanya suaranya mengatakan koruptor adalah musuh negara,musuh pembangunan, memelaratkan rakyat dan merusak pembangunan. Terlebih pejabat setiap pidatonya, selalu berkumandang suara itu. Apalagi ketika kampanye pencalonan anggota legislatif. Terlebih ketika kampanye untuk menjadi kapala daerah.

Dikatakan dirinya anti korupsi dan menjauhkan korupsi dalam membangun daerah kami. Tapi satu bukti banyak kepala daerah melakukan korupsi pada masa jabatannya. Hukumannya tidak terlalu berat jika dibandingkan kesalahan lain dilakukan rakyat biasa. Tentu itulah membuat koruptor itu tidak jera melakukan kejahatan itu. Demikian juga orang lain duduk dalam jabatan penentu. Misalnya kepala daerah, kepala dinas dan pejabat lainnya.

Yang mereka pikirkan untuk duduk dalam jabatan baru ialah bagaimana mengakali uang negara itu. Dia tidak takut terhadap hukuman. Kenyataan membuktikan, KPK menindak koruptor , tapi koruptor  baru terjadi lagi. Bahkan lebih banyak lagi. Terjadi diberbagai tempat seperti yang ditemukan BPK yang diserahkan kepada DPR.

Karena kurang efektifnya hukuman untuk membuat jera koruptor, tentu sudah mendesak ditempuh upaya mencegahan. Tidak sempat terjadi  karena berbagai aturan dan peraturan. Untuk menduduki satu jabatan yang menangani uang, hendaknya orang yang jujur, moral baik. Tidak hanya takut ditindak, tapi malu kepada sekelilingnya. Terlebih kepada Tuhan penciptanya. Mengapa masa tahun lima puluhan sampai enampuluhan, hilangnya uang negara itu tidak banyak ditangan  pejabat?  Seorang pejabat selalu diawasi atasannya.******

Sekwan Nonjob, Camat Tisel Lengser



*Mutasi Jabatan Lingkup Pemkab Muna
RAHA, KEPRES - Sekretaris DPRD Muna Dahlan Kalega SH MH di nonjob dalam mutasi jilid V yang dilakukan Bupati Muna dr Baharuddin MKes, di Rujab Galampano Kantolalo, Kamis (12/5). Satu-satunya pejabat eselon II dari 425 pejabat struktural dan fungsional yang dilantik saat mutasi itu, digantikan Ari Asis SE MSi.

Selain Dahlan Kalega, Camat Tiworo Selatan (Tisel) Rahman, yang namanya sempat mencuat akibat kepergok mesum oleh Satuan Pol-PP Muna di Kompleks SOR La Ode Pandu, Raha, akhir Maret lalu, juga ikut lengser. Rahman, dikembalikan sebagai penyuluh pertanian seperti jabatan sebelumnya.

Nama Muh Guntur Dano SE MSi, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perhubungan (Dishub) Muna juga ikut dilantik. Tetapi kali ini jabatanya menjadi Sekretaris Dishub Muna. La Ode Darmasyah Kasat Pol-PP Muna dilantik menjadi Camat Lohia. Jabatan Kasat Pol-PP sendiri di serahkan kepada Yamir.

Camat Lohia La Ode Ndimaka juga ikut di mutasi, tetapi kembali dilantik menjadi Camat Napabalano. Sementara posisi Camat Tiworo Selatan yang ditinggalkan Rahman, diisi Laskar Kombio.

Bupati Muna dr Baharuddin MKes mengatakan mutasi pejabat struktural dan fungsional kali ini, adalah yang terakhir dilakukan dalam pemerintahannya. Tetapi, jika kedepan ada mutasi kembali, maka akan disesuaikan.

"Mutasi kali ini untuk penyegaran. Tidak ada yang istimewa. Mutasi ini, adalah yang terakhir untuk pejabat struktural dan fungsional lingkup Pemda Muna. Masih ada Sekolah Dasar (SD) tetapi tinggal penyesuaian saja," jelasnya.

Dokter begitu sering disebut, meminta semua pihak tidak mengkaitkan mutasi dengan politik. Ia mengangkat pejabat demi membangun Muna sesuai Visi Pemda Muna yang maju dan sehat 2015 mendatang. "Muna, tidak bisa dibangun oleh hanya Bupati, atau wakil Bupati. Tetapi semua pihak harus dilibatkan," jelasnya.

Bagi pejabat yang dilantik kata Dokter, silahkan bekerja sebaik-baiknya, demi kemajuan Muna. Jabatan yang diemban bukan untuk dibanggakan, tetapi bekerja untuk masyarakat Muna. Jangan juga kata Dokter merasa ditempatkan pada lahan kering atau merasa bangga ditempatkan dilahan basah.

"Tidak ada istilah seperti itu. Tunjangannya sama. Malah yang ditempat basah, harus hati-hati bekerja, karena diintai dimana-nama. Selain pengawas pengelolaan keuangan, LSM juga ikut mengawasi pengelolaan keuangan itu. Jadi harus hati-hati," tambahnya. R3/B/MAT

09 May 2011

Gerindra: Punya Bukti Noura Mabuk, Serahkan!



Gerindra akan memberi sanksi jika Noura terbukti bersalah.
SENIN, 9 MEI 2011, 12:33 WIB
Eko Huda S, Mohammad Adam
VIVAnews - Partai Gerindra tak main-main menyikapi pemberitaan tentang anggota fraksinya, Noura Dian Hartarony yang diduga mabuk dan menari di sebuah kelab malam. Partai pimpinan Prabowo Subianto itu meminta siapapun yang memiliki bukti untuk menyerahkannya kepada Gerindra.

"Kami akan konfrontir, kita butuh bukti itu saja. Kalau ada bukti itu kita akan sikapi," kata Sekretaris Fraksi Gerindra, Edi Prabowo di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, Jakarta, Senin 9 Mei 2011.

"Yang jelas, kalau ada yang melihat, bahkan ada yang katanya menerima kartu nama silakan menyerahkan kepada kami."

Menurut dia, jika nantinya Noura terbukti, maka Partai Gerindra siap menjatuhkan sangsi kepada anggota fraksinya itu. Namun, pemberian sanksi itu terlebih dahulu akan dibicarakan oleh dewan kehormatan. "Sanksinya banyak, nanti kita lihat apa. Karena yang menentukan majelis etik, bukan satu atau dua orang," kata dia.

Edi menambahkan, semua kader partai tentu akan sepakat jika ada angggota yang melanggar ditindak tegas. "Jika ada kader yang melakukan hal itu, saya  kira semua setuju kalau kita harus memberikan trindakan keras," kata dia.

Bagi Gerindra, mendatangi tempat-tempat seperti kafe, restoran, dan kelab malam itu tidak bermasalah. Namun, jika disertai dengan tindakan tidak terpuji seperti mabuk, itu yang tidak bisa diterima partai. "Kalau  kelab itu kan tempat biasa saja. Cuma yang jadi masalah ada yang menyampaikan itu mabuk dan menari. Dan ini berbeda dengan yang disampaikan oleh Mbak Noura," kata dia.

Sementara itu, sebelumnya Noura sendiri telah membantah mabuk dan menari sambil membagikan kartu nama di kelab malam. Menurut Noura, sejak diangkat menjadi anggota dewan dan disumpah, dirinya menghormati jabatan yang diembannya itu. Noura, mengklaim selalu menjaga kehormatan sebagai anggota dewan. "Saya menjaga segala sesuatu atas nama kehormatan seorang dewan, dimana diatur oleh kode etik," kata dia. (umi)
• VIVAnews


Noura: Berita Saya Mabuk Menggelikan
Noura mengaku terakhir ke kelab malam pada 2010.
SENIN, 9 MEI 2011, 11:33 WIB
Eko Huda S, Mohammad Adam
VIVAnews - Akhir pekan lalu beredar sebuah foto wanita mabuk di sebuah kelab yang diduga legislator asal Partai Gerindra. Dia berjoget sambil membagi-bagikan kartu nama. Wanita dalam foto itu disebut-sebut Noura Dian Hartarony.

Namun, Noura yang juga anggota Komisi VI dari Fraksi Gerindra itu membantahnya. Dia mengatakan, foto itu bukan dirinya. "Itu benar-benar fitnah yang ditujukan kepada saya," kata Noura di Jakarta, Senin 9 Mei 2011.

Menurut Noura, sejak diangkat menjadi anggota dewan dan disumpah, dirinya menghormati jabatan yang diembannya itu. Noura, mengklaim selalu menjaga kehormatan sebagai anggota dewan. "Saya menjaga segala sesuatu atas nama kehormatan seorang dewan, dimana diatur oleh kode etik," kata dia.

Dia mengaku sudah lama tidak pernah datang lagi ke kelab malam. "Saya tidak pernah ke sana, cuma terakhir waktu tahun 2010."

Noura juga mempertanyakan bukti adanya pengunjung yang menerima kartu nama yang dibagi-bagikan itu. "Buktinya mana kartu nama itu sekarang?," tanya dia.

Dia menaambahkan berita seputar foto yang diduga sebagai dirinya itu sebagai lelucon politik murahan "Apa yang diberitakan sangat menggelikan untuk saya," kata dia.

"Saya ingin katakan bahwa,  media terlihat kekanak-kanakan. Karena tidak ada bukti, tapi sudah menyiarkan berita. Negara ini adalah negara hukum."

Lantas, apakah Noura akan menggunakan hak jawab pada media yang memuat berita terkait foto itu? "Saya sudah melaporkan ke fraksi, jadi nanti fraksi yang mengurus," kata dia. (umi)
• VIVAnews

MENGENAL DAN MEMAHAMI NILAI-NILAI SOWITE


Kerajaan Muna masa lampau walaupun masih tergolong kerajan tradisional, namun ternyata masyarakat dan Raja-rajanya telah memiliki jiwa Nasionalisme dan wawasan kebangsanaan yang cukup tinggi. Jiwa cinta tanah air dan rela berkorban untuk membela kedaulatan negara telah tertanam dalam diri rakyat Muna sejak Sugi Manuru ( 1428 ) Raja Muna VI  mengajarkan falsafa dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang dikenal dengan falsafa SOWITE ( Cinta Tanah Air ). Falsafa Sowite tersebut kemudian diuaraikan dalan tiga nilai- nilai  dasar  yaitu
1.  Hansuru-hansuru bahda Sumano Kono Hansuru Liwu ( Rela berkorban demi kedaulatan bangsa dan Negara)
2.  Hansuru-hansuru Liwu Sumano Kono Hansuru Adhati ( Walaupun negara hancur Nilai adat harus tetap dipertahankan)
3.  Hansuru-hansuru  Adhati Sumano Tangka Agama. ( Bila Nilai adat sudah tidak bisa dipertahankan, maka nilai-nilai agama harus tetap kuat dan menjadi pedoman )
Ketiga nilai dasar tersebut wajib diamalkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh warga Kerajaan Muna baik dia berada di wilayah Kerajaan Muna maupun berada diwilayah lain. Kemerdekaan dalam arti yang luas bagi masyarakat Muna menjadi hal yang mutlak  untuk diperjuangka sehinga kalau ada pihak lain yang mencoba untuk menggangu maka tidak segan-segan masyaraat Muna akan melawannya..
Kemerdekaan yang dmaksud warga masyarakat Muna bukanlah saja kemerdekaan pribadinya tetapi lebih bertitik tolak pada kemerdekaan yang universal dalam hal ini  juga termasuk kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan-kerajaan tetangga. Hal ini telah perlihatkan  oleh Raja Muna VII La Kilaponto yang tiddak segan-segan melawan La Bolontio tokoh bajak laut bermata satu yang telah memporak porandakan kerajan-kerajaan tetanga Kerajaan Muna seperti Kerajaan Selayar, Kerajaan Konawe dan Kerajaan Buton. Demi membela keerdekaan dan kedaulatan Kerajan-Kerajaan tetanganya tersebut, Raja La Kilaponto menyatakan perang terhadap La Bolontio yang kemudian berhasil di kalahkannya bahkan sampai membnuhnya disekitar Pantai Boneatiro  Yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton.
Tidak sampai disitu, setelah La Kilaponto  berhasil membunuh La Bolontio, kemudian dilanjutkan  mengejar  sisa-sisa pasukannya yang masih berada di Selayar dan Kerajaan Konawe. Setelah seluruh Pasukan La Bolontio benar benar habis maka La Kilaponto kemudian melakukan penataan pemerintahan pada kerajaan-kerajaan tersebut sampai benar-benar stabil. Karena jasa-jasanya tersebut, maka oleh asyarakat dan tokon adat setempat menobatkannya sebagai Raja pada kerajaan dimaksud. Olehnya itu La Kilaponto Raja Muna VII dikenal sebagai Raja yang mepersatukan seluruh Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Tenggara yaitu Kerajaan Muna, Kerajaan Buton, Kerajaan Konawe, Kerajaan Kaledupa dan Kerajaan Kabaena.
Pada Kerajaan-Kerajaan yang menobatkanya sebagai Raja tersebut, La Kilaponto diberi gelar Kehormatan seperti di Kerajan Konawe ia dianugrahi Gelar La Tolaki ( Menjadi Laki-laki/Raja) atau Haluoleo ( Delapan hari ). Dibuton La Kilaponto dianugrahi gelar Timba-Timbanga ( orang yang menetapkan hukum/orang yang adil) / Sultan Kaimuddin Khalifaul Khamis/ Murhum. Dua gelar terakhir dianugrahi setelah beliau berhasil menjadikan Kerajaan Buton menjadi Kesultanan dan La Kilaponto dinobatkan sebagai Sultan I. Sedangkan di Muna ia digelar dengan Omputon Mepokonduaghono Ghoera artinya Raja yang menggabungkan wilayah.negara.
 Kendatipun La Kilaponto telah di nobatkan sebagai Raja pada kerajaan-kerajaan yang diselamatkan dari kehancuran tersebut beliau tidak berusaha untuk menguasainya, bahkan ketika kerajaan-kerajaan tersebut dianggap telah mampu menjalankan pemerintahannya sendiri maka jabatan raja pada kerajaan tersebut diserahkan pada yang berhak. Sikap La Kilaponto tersebut merupakan cerminan dari ajaran yang ditanamkan oleh ayahandanya Raja Muna VI Sugi manuru yaitu ; “poangka-angka tao, Poadha-adhati, Popiara-piara dan pobini-biniti kuli” artinya saling tepa selira, saling menghargai, saling memelihara dan saling tenggang rasa.
Setelah dilantik menjadi Raja Buton dan menjadikan Kerajaan itu sebagai kesultanan, nilai-nilai yang dijarkan oleh ayahandanya seperti tersebut diatas kemudian diajarkan dan disebarluaskan dikerajaan itu.  Pada pemerintahan Sultan Buton IV Dayanu Ikhsanuddin nilai-nilai yang disebarluaskan oleh La Kilaponto tersbut diadopsi dalam Konstitusi Kesultanan Buton yang dikenal dengan “Martabat Tujuh”. Karena Konstitusi tersebut merupakan konstitusi KerajaanIslam, maka nilai-nilai dasar tersebut dielaborasi dengan nilai-nila Islam.
                                                                                                                        

08 May 2011

OPINI


Menyelami Makna Syair Orang Wuna
Oleh : Laode Abdul Alim
(Mahasiswa Pascasarjana Ketahanan Nasional UGM)
HP : 085241807163
Ketiadaan ilmu pengetahuan menjadikan manusia tidak sadar melakukan pembangkangan terhadap Allah. Namun kelimpahan ilmu pengetahuan juga tidak menjamin manusia untuk tidak membangkang pada Allah. Dalam hal ini, manusia bodoh membangkang karena ketidakmampuan menemukan hakekat hidup, sementara manusia berilmu justru membangkang karena mengingkari hakikat hidupnya, akibat banyaknya ilmu pengetahuan yang mencocoki akal pikiran mereka tanpa satu alat pengendali, yakni kesadaran akan eksistensi ilmu pengetahuan, sebagai rahmat terbesar manusia yang diberikan Allah untuk memakmurkan bumi dan mensejahterakan sesama manusia. Kondisi tersebut berakibat pada kadar kehancuran yang ditimbulkan manusia pembangkang karena tidak bertemu hakekat hidup, serta pembangkang karena ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kehancuran oleh orang yang tidak menemukan hakikat hidup tidak sebesar kehancuran yang disebabkan orang berilmu. Dan fenomena yang seringkali terjadi dalam peradaban manusia, orang-orang berilmu pengetahuan akan memanfaatkan golongan manusia tak berilmu untuk mengumpulkan keuntungan pribadi.
Jauh sebelum ketersesatan manusia karena mengikuti ilmu pengetahuan yang telah dicemari dengan kaidah-kaidah iblis, leluhur orang Wuna  yang kini diklaim masih jauh dari pola pikir modern, telah memberikan gambaran bagaimana kondisi sosial anak cucu mereka. Seperti halnya makna tersirat dari salah satu syair berikut ini :
Masangia natipake nipakeno kamokula ini 
(artinya : semoga diamalkan amalan orang ini)
Medam panatipake aitu nandomo lalo 
(artinya : kalaupun tidak diamalkan itu terserah kemauan hati)
Tama koe ndososo rato namada kaawu
(artinya : namun jangan menyesal pada saatnya nanti)
Dhamani sorumatono, dhamani o kasikola
(artinya : zaman yang akan datang, zaman terpelajar)
Dasipande-pandeham mieno dhunia ini
(artinya : semua penghuni dunia akan pintar)
Anahi bhe kamokula kesenom somandeno
(artinya : anak-anak dan orang tua masing-masing pintar)
Sada sipande-pandeha dhunia nabale ronggamo
(artinya : saat semuanya pintar dunia akan gonjang-ganjing)
Nabharim soniwura, nabharim sonifetingke
(artinya : banyak yang akan dilihat, banyak yang akan didengar)
Anahi hende bughou tadamangka-damangkamo
(artinya : generasi muda akan mengikut sembarang)
Damangkafi powurando, damangkafi pofetingkendo
(artinya : mengikut apa yang dilihat, mengikut apa yang didengarkan)
Nipakeno kamokula paem natikona hae
(artinya : amalan orang tua terdahulu tidak akan dipedulikan lagi)
Amano bhe anano dapogai nsoririmo
(artinya : ayah dan anak saling membelakangi)
Isano bhe aino dapogati kundomo
(artinya : kakak dan adik saling bertolak belakang)
Pae amangka ihintu apandemo dua
(artinya : saya tidak mengikutimu, saya juga sudah pintar)  
    Menurut informan yang pernah diajak berdiskusi oleh penulis, syair ini diciptakan oleh Muhammad Saadidun pada tahun 1931, dan mulai saat itu turun temurun dijadikan pedoman dalam melihat fenomena perjalanan bangsa dan negara bahkan dunia hingga kini. Secara akademis, makna dari bait-bait syair di atas tidak dapat dipungkiri kebenarannya saat ini, terlebih pasca reformasi digulirkan dan demokrasi diagungkan-agungkan melebihi agama. Semua orang bersuara atas nama kebebasan dalam bingkai hak asasi manusia. Sayangnya, kebebasan yang di agung-agungkan itu ternyata kebebasan tanpa batas dan memberi ruang tak terhingga pada siapapun untuk berbuat apapun. Demikian kebebasan yang dilandasi ilmu pengetahuan manusia yang telah disesatkan iblis menjadi penyebab keruntuhan sifat serta prilaku sosial manusia. Antara anak dan orang tua saling berselisih hanya karena perbedaan dukungan atas salah satu figur calon pemimpin politik tertentu. Si adik dan si kakak terpaksa bermusuhan satu sama lain karena alasan ekonomi maupun politik. Semuanya bersikukuh mengaku lebih tahu akan  semua hal meskipun sebenarnya itu sedikit atau tidak sama sekali selain kebohongan.
Di pihak lain, kewibawaan pemerintah dan agama semakin pudar di mata rakyat serta manusia pada umumnya. Pada kondisi seperti ini, ketersesatan manusia ke jalan iblis akibat ilmu pengetahuan manusia itu sendiri semakin terbuka lebar. Pemerintah yang seharusnya berkewajiban membuat regulasi berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan serta kemanusiaan, akhirnya melahirkan produk-produk hukum yang mengajak manusia untuk membangkang kepada Allah. Hasilnya korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela sebagai salah satu ciri hawa nafsu para penguasa sejak zaman era prasejarah hingga abad modern. Di kalangan rakyat jelata, berkembang nafsu tidak beradab dalam wujud pembunuhan, penjarahan, pemerkosaan, serta berbagai tindak kriminalitas kasat mata lainnya. Baik penguasa korup, kolutif dan nepotis sebagai bentuk kejahatan halus maupun prilaku barbarisme di kalangan rakyat jelata, keduanya merupakan bentuk pembangkangan manusia terhadap Allah.
Namun satu hal yang penulis ingin garis bawahi terkait prilaku kejahatan penguasa dan rakyat jelata adalah, nafsu hewaniah rakyat jelata muncul akibat kegagalan pemerintah menciptakan suasana nyaman untuk rakyat. Nafsu hewaniah kaum jelata berbanding lurus dengan nafsu para pejabat pemerintah yang menuhankan harta, jabatan dan kepuasan seksual. Sederhananya, pemerintah pasti bisa memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya bila mampu menanggulangi prilaku korupsi, kolusi dan nepotisme para pejabat pemerintahan. Namun keadaan sekarang semakin tidak terkendali seiring meningkatnya harga kebutuhan hidup yang berpadanan dengan tingkat kewibawaan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Korupsi, kolusi dan nepotisme semakin sulit diberantas karena prilaku rakyat seolah telah berubah, dengan melegitimasi KKN sebagai salah satu kewajaran. Dalam penerimaan pegawai negeri sipil, misalnya, pejabat pemerintah aliran makelar PNS tidak perlu bersusah-bersusah lagi mencari mangsa calon PNS karena masyarakat sendiri akan mencari para makelar tersebut, lalu membayar uang berapapun asalkan lulus menjadi PNS.
Perselingkungan para makelar dan calon PNS tersebut akhirnya berujung pada menguatnya virus KKN yang terus berputar dalam roda kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana tidak, biaya (cost) yang mahal ketika mendaftar menjadi pegawai negeri sipil, kemudian akan menyebabkan seseorang mencari pengembalian modal ketika lulus PNS, dengan memanfaatkan jabatan untuk melakukan korupsi, kolusi maupun nepotisme. Selain PNS, biaya mahal juga harus dikeluarkan para calon anggota legislatif, kepala daerah ataupun presiden ketika mengikuti pemilihan umum sebagai syarat utama terlibat dalam kancah demokrasi. Miliayaran bahkan triliunan rupiah harus dikeluarkan para politisi, mulai dari membayar pintu di salah satu partai hingga berakhir pada pembayaran massa saat kampanye dan menjelang pemilihan umum atau lebih dikenal dengan istilah ‘serangan fajar’. Sama seperti halnya calon PNS yang kemudian lulus dan menjabat, para politisi pun akan bertindak mencari pengembalian modal selama pemilihan umum melalui KKN. Demikian siklus tersebut akan kembali berulang pada generasi berikutnya dan seterusnya.
Memang, bila kita menggunakan rumus hidup kaum Machiavelian yang mengesahkan apapun tindakan manusia demi meraih tujuan hidupnya, segala macam cara bisa dilakukan bahkan termasuk membunuh. Namun perlu diingat, konsep manusia sebagai makhluk sosial menuntut setiap orang terlibat secara aktif dalam kegiatan saling memberi dan menerima kepada sesama manusia dan alam semesta. Masing-masing telah ditakar oleh Allah berdasarkan kadar keikhlasan berusaha tiap-tiap manusia. Berangkat dari konsep berpikir tersebut, maka Sangat tidak adil rasanya bila ada golongan manusia yang tega merampas lahan rezeki orang yang sudah ikhlas bekerja keras untuk menghidupi diri beserta keluarganya. Prilaku tega ini hanya dimiliki oleh golongan manusia bermental koruptif, kolutif dan nepotis. 
Di kalangan pejabat politis dan birokrasi sengaja memelihar hubungan gelap dengan para pengusaha kapitalis sebagai sumber pengembalian modal ketika mendaftar menjadi pegawai negeri sipil mapun pejabat politik di pemerintahan. Berbagai peraturan perundangan-undangan ditelorkan atas dasar melindungi kepentingan korporasi. Kawasan hutan yang menjadi tempat bermukim satu komunitas masyarakat adat dijual  secara diam-diam kepada pengusaha swasta. Pemukiman-pemukiman kumuh digusur dengan alasan ketertiban kawasan, setelah itu dijual kepada pengusaha untuk kemudian dibangun pusat-pusat perbelanjaan modern maupun kompleks perumahan elit. Selanjutnya yang terjadi adalah konflik antara masyarakat dan pekerja perusahaan yang tidak tahu apa-apa. Saat konflik terjadi, pemerintah melalui dalih menciptakan ketertiban di masyarakat kemudian mengerahkan satuan-satuan keamanan, baik Polisi Pamong Praja ataupun personil Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Akhirnya aparat keamanan terlibat bentrokan fisik dengan masyarakat yang seharusnya dilindungi. Mekanisme seperti ini sudah lumrah terjadi pada negara miskin yang memaksakan menganut paham demokrasi.***

04 May 2011

Awas, Gerombolan Penjahat Seks di Kereta

Mereka mengelilingi korban dan mulai melakukan aksinya.
Selasa, 26 April 2011, 16:45 WIB
Eko Priliawito, Siti Ruqoyah
VIVAnews - Kasus pelecehan seks masih terjadi di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi. Kali ini pelakunya tidak lagi sendiri tapi berkelompok. Selasa 26 April 2011 pagi, cerita kelam perlakuan bejat sekelompok pria itu terjadi.
Seperti yang diceritakan rekan korban, Dina Nirmala kepada VIVAnews.com.  Rekannya pagi tadi datang ke kantor dengan kondisi tertunduk menangis dan badannya gemetar. Melihat hal ini, banyak temannya yang terheran. "Sambil menangis dan dengan susah payah korban menuturkan pengalaman pahit yang baru saja menimpanya," katanya.

Saat itu, korban naik KRL Ekonomi jurusan Tanah Abang, sekitar pukul 08.00 WIB, dari Stasiun Universitas Pancasila. Kondisi kereta sangat padat. Aksi saling dorong saat penumpang masuk pada setiap stasiun terjadi. Hal ini sudah biasa dirasakan penumpang kereta.

Saat berada di dalam kereta, korban tidak mencurigai apapun saat melihat sekitar 10 orang pria bergerombol. Menurut korban, usia pelaku ditengarai antara 30 tahun ke atas. "Tampang mereka baik-baik semua, itu kenapa saya tidak curiga apa-apa," kata korban yang mengenakan jilbab, seperti yang diceritakan Dina.

Desakan penumpang dari Stasiun Lenteng Agung, memaksanya masuk lebih jauh ke dalam gerbong. Nahas, dia dikelilingi gerombolan pria itu. Hal yang tak dia duga mulai terjadi ketika salah satu pria yang berada di belakangnya mulai menurunkan tangan. "Pria itu membuka celana panjangnya, dan maaf mengeluarkan alat vitalnya dan mengesek di bagian belakang tubuh korban," kata Dina.

Tragisnya lagi, sejumlah pria lain itu seperti menutupi aksi yang ada. Ketika korban berteriak minta tolong, tidak ada satupun orang yang bisa membantu karena kondisi kereta sangat padat. Korban bahkan memohon agar tindakan itu dihentikan. "Pak tolong, saya mohon jangan dorong, kereta sudah padat dan saya terjepit." ujarnya.

Gerombolan pria itu malah tertawa. Mereka seperti kegirangan dan mereka terus melakukan aksi bejatnya. "Pria itu bahkan sedikit mendesah dan mengeluarkan kata-kotor kotor di kuping korban," katanya.

Setelah bersusah payah berteriak dan merangsek menuju pintu, akhirnya korban keluar dari desakan gerombolan laki-laki itu di Stasiun Pasar Minggu. Padahal kantornya berada di Tanah Abang. Dia lalu menuju  kantornya menggunakan kendaraan umum.
Dina mengatakan, sambil bercerita korban tak hentinya mengeluarkan air mata. Dia syok dan trauma. Kasus ini terpaksa diceritakan Dina agar pengalaman pahit yang menimpa temanya dapat membuat kaum wanita makin waspada saat berada di dalam kereta. Agar kondisi yang sama tidak terjadi dan tidak terulang lagi.

"Banyak kasus seperti ini tapi korban tidak berani mengadu. Lalu kemana jika harus mengadu? KCJ (PT Kereta Api Commuter Jabodetabek)? Akankah ada tindakan nyata," ujar Dina.

Menurut Dina, biasanya pihak PT KCJ dengan mudah bicara untuk menyalahkan korban. "Mereka mengatakan harusnya korban bisa membela diri. Harusnya korban bisa begini dan begitu, atau yang lebih ekstrim lagi, harusnya jangan naik kereta ekonomi kalau mau nyaman," katanya.

Dina mengatakan, pagi ini dirinya berkabung untuk sekian kalinya terhadap pelayanan kereta yang buruk. "Sudah berulang kali dikatakan buruk, tetapi seperti bangga akan keburukannya," katanya.

"Kejadian pagi ini hendaknya menjadi pelajaran berharga buat semua orang. Sampai sekarang teman saya masih merasakan tertawaan orang itu dan canda joroknya. Lelaki tidak bermoral, lahir dari batu mungkin," kesal Dina.
Kepala Humas Daop I PT Kereta Api, Mateta Rizalulhaq mengatakan,  akan mengusut  kejadian ini. Dia sudah menyampaikan kepada unit terkait. Namun dia meminta agar para penumpang tidak memaksakan diri bila kereta sudah dalam kondisi yang sangat penuh.

Selain itu, PT KA terus berupaya untuk memberikan layanan yang layak bagi penumpang wanita dengan menyediakan gerbong kereta wanita pada kelas eksekutif atau ekspres. "Ini usaha kami untuk menghindari kejahatan terhadap penumpang wanita," ujarnya.

Selain itu, penegakan hukum dianggap menjadi penting. Karena setiap korban diminta untuk melapor kepada petugas yang ada disetiap stasiun maupun kepada polisi. Karena bila mengerahkan petugas dalam jumlah banyak di dalam kereta adalah hal yang tidak mungkin.

"Berteriak, menghindar, dan laporkan kepada petugas. Tidak mungkin petugas diam, kalau perlu kami akan hentikan perjalanan kereta," ujarnya. (adi)

Baca juga :

Korte Verklering Antara Belanda dan Buton 8 April 1906

Berikut kami postkan Korte Verklering tanggal 8 April 1906 yang ditanda tangani oleh  Sultan Buton Muhammad Asyikin dan perwakilan Pem...